Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus memberikan pujian terbuka terhadap kinerja impresif Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BP Danantara) yang dinilai berhasil melakukan reorientasi tata kelola serta mendongkrak profitabilitas perusahaan-perusahaan milik negara (BUMN) secara signifikan. Dalam pandangan Kepala Negara, capaian luar biasa yang berhasil mengubah wajah BUMN—dari yang sebelumnya terpuruk dalam kerugian kronis menjadi entitas penyumbang laba negara—merupakan bukti nyata dari kepemimpinan yang berintegritas, efisien, dan berorientasi pada kepentingan nasional. Atas dasar pencapaian monumental tersebut, Presiden Prabowo memberikan sinyal kuat bahwa jajaran pimpinan BP Danantara sangat layak untuk dianugerahi tanda kehormatan tertinggi dari negara.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto saat memberikan pengarahan dalam acara peletakan batu pertama (groundbreaking) Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt-peak (GWp) yang berlokasi di kawasan bersejarah Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali. Momentum peresmian proyek transisi energi berskala raksasa ini menjadi panggung penting bagi Presiden untuk menegaskan kembali komitmen pemerintahannya dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui penegakan efisiensi anggaran, pemberantasan korupsi, serta optimalisasi pengelolaan aset-aset strategis milik bangsa.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menggarisbawahi pentingnya kehadiran negara di tengah-tengah masyarakat, khususnya dalam situasi darurat dan penanganan bencana alam. Ia menjelaskan bahwa kecepatan respons pemerintah—seperti pengerahan armada helikopter bantuan, distribusi logistik darurat, hingga pemulihan infrastruktur—membutuhkan dukungan finansial yang kokoh. Menurut Presiden, kemampuan finansial negara dalam mendanai berbagai program kerakyatan dan tanggap darurat tersebut tidak lepas dari keberhasilan pemerintah dalam menghentikan praktik kebocoran uang negara serta menutup celah perburuan rente yang selama berdekade-dekade menggerogoti Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Presiden menegaskan bahwa dana publik yang digunakan untuk kesejahteraan rakyat bersumber dari efisiensi ketat dan keberhasilan aksi penindakan korupsi. Pihaknya menghentikan berbagai potensi kebocoran anggaran yang selama ini dianggap biasa. Kendati telah menunjukkan hasil yang positif, Presiden menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh berpuas diri dengan capaian saat ini. Pengawasan dan pengelolaan seluruh instrumen keuangan negara harus terus ditingkatkan dengan tingkat disiplin yang lebih tinggi dan tindakan yang lebih tegas tanpa kompromi.
Di tengah upaya penataan keuangan negara tersebut, keberadaan BP Danantara menjadi instrumen krusial dalam mempercepat transformasi BUMN. Presiden Prabowo menguraikan bahwa di bawah kendali manajemen Danantara, portofolio investasi dan operasi entitas BUMN mengalami lonjakan kinerja keuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun sejak lembaga pengelola investasi ini diefektifkan, pendapatan serta profitabilitas BUMN yang berada di bawah naungannya melonjak hingga ratusan persen.
Keberhasilan ini dianggap sebagai pencapaian fenomenal mengingat banyak korporasi pelat merah yang sebelumnya tercatat mengalami kerugian beruntun selama belasan hingga puluhan tahun. Di bawah supervisi dan restrukturisasi terukur yang diterapkan oleh Danantara, BUMN-BUMN yang sebelumnya membebani keuangan negara kini telah berbalik arah menjadi mesin pencetak laba. Menurut Presiden, pembalikan kondisi keuangan (turnaround) ini melampaui ekspektasi awal pemerintah dan membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang jujur, kompeten, serta memiliki rasa cinta tanah air yang mendalam, masalah sistemik yang mengakar puluhan tahun dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
Sinyal pemberian bintang tanda kehormatan negara yang dilemparkan oleh Presiden Prabowo bukan sekadar formalitas seremonial, melainkan sebuah pengakuan atas lahirnya standar baru dalam tata kelola BUMN. BP Danantara, yang dibentuk sebagai lembaga pengelola investasi terpadu (sovereign wealth fund sekaligus superholding BUMN), mengemban misi besar untuk mengonsolidasikan aset-aset negara agar berdaya saing global. Melalui integrasi manajemen, penerapan prinsip kesetaraan pasar (arms-length principle), serta pembersihan praktik nepotisme dalam jajaran direksi, Danantara berhasil mengeliminasi berbagai inefisiensi struktural.
Tanda kehormatan yang direncanakan pemerintah menjadi simbol penghargaan atas dedikasi pejabat publik dan profesional yang mampu membuktikan bahwa kekayaan negara jika dikelola dengan transparan dan profesional akan memberikan deviden maksimal bagi kemakmuran rakyat. Presiden menekankan bahwa integritas moral dan jiwa patriotisme pimpinan Danantara adalah kunci utama yang membuat perubahan besar ini terwujud secara efektif.
Penguatan kinerja BUMN melalui Danantara juga berdampak langsung pada akselerasi pembangunan proyek-proyek strategis nasional, salah satunya adalah proyek PLTS 100 GWp di Gilimanuk, Bali. Proyek ini tidak hanya menjadi simbol komitmen Indonesia dalam menuju target Net Zero Emission (NZE), tetapi juga menunjukkan integrasi antara investasi modal negara dengan agenda transisi energi hijau. Pemilihan kawasan Gilimanuk sebagai lokasi peresmian memiliki makna historis dan strategis, yakni menghubungkan semangat perjuangan masa lalu dengan perjuangan masa depan dalam mewujudkan kemandirian energi nasional.
Melalui pendanaan terstruktur dan kemitraan investasi yang dipelopori oleh Danantara bersama BUMN sektor ketenagalistrikan, Indonesia membuktikan kedaulatannya dalam mengelola sumber daya alam terbarukan. Keberhasilan menekan korupsi dan menaikkan pendapatan BUMN secara langsung menyediakan ruang fiskal yang aman bagi penyertaan modal dalam proyek-proyek energi bersih skala besar tanpa bergantung sepenuhnya pada utang luar negeri yang memberatkan.
Transformasi masif yang terjadi pada BUMN di bawah pengawasan BP Danantara turut mengubah persepsi investor global terhadap iklim investasi di Indonesia. Lembaga pemeringkat kredit internasional dan investor institusional kini melihat BUMN Indonesia sebagai entitas korporasi yang profesional, transparan, dan memiliki kepastian hukum. Dengan terkendalinya tingkat kebocoran anggaran dan meningkatnya dividen BUMN kepada negara, pemerintah memiliki instrumen ekonomi yang lebih solid untuk menghadapi ketidakpastian geopolitik global dan ancaman krisis ekonomi dunia.
Ke depan, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan seluruh jajaran kementerian, lembaga, serta badan usaha milik negara untuk mencontoh pola kepemimpinan dan efisiensi yang diterapkan oleh BP Danantara. Keberhasilan mengembalikan kejayaan BUMN dari keterpurukan masa lalu menjadi bukti konkret bahwa reformasi birokrasi dan tata kelola keuangan negara di era pemerintahannya berjalan pada jalur yang benar (on the right track).
Menutup pengarahannya di Bali, Presiden mengulangi rasa bangga dan optimismenya terhadap masa depan ekonomi Indonesia. Dengan sinergi antara kepemimpinan yang bersih, penegakan hukum yang tegas, pemanfaatan energi terbarukan, dan pengelolaan investasi yang profesional melalui Danantara, Indonesia berada pada posisi yang sangat kuat untuk melompat menjadi negara maju. Pengakuan negara berupa tanda kehormatan bagi para pimpinan lembaga yang berprestasi diharapkan dapat menjadi pemicu semangat bagi seluruh insan abdi negara untuk terus memberikan dedikasi terbaik demi kejayaan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.




