Lombok Tengah kembali berduka setelah si jago merah melahap salah satu ikon pariwisata budaya paling berharga di pulau tersebut, yakni Dusun Sade yang terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Musibah kebakaran hebat yang terjadi pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, telah meninggalkan luka mendalam tidak hanya bagi masyarakat lokal yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan, tetapi juga menyita perhatian dunia internasional. Kepedulian yang mendalam ditunjukkan oleh seorang warga negara asing asal Kanada bernama Eli, yang bersama rekannya, Ray, datang langsung ke lokasi bencana pada Senin, 24 Agustus 2026, untuk melihat dari dekat sisa-sisa puing kebakaran dan menginisiasi gerakan solidaritas global demi membantu proses pemulihan kawasan cagar budaya yang sangat dicintainya itu.
Kedatangan perempuan berusia 26 tahun tersebut ke Dusun Sade bukan tanpa alasan yang kuat, sebab ia dan rekannya telah mengetahui kabar tragis mengenai musibah tersebut sehari sebelumnya melalui berbagai platform media sosial yang menyiarkan detik-detik kepanikan saat api membakar puluhan rumah adat dengan sangat cepat. Ketika tiba di lokasi kejadian pada hari Senin, ekspresi keterkejutan dan kesedihan mendalam tampak jelas di wajah Eli saat menyaksikan pemandangan kontras antara keindahan arsitektur tradisional yang tersisa dengan reruntuhan abu hitam serta puing-puing bangunan yang kini rata dengan tanah. Sebagai seorang wisatawan mancanegara yang pernah merasakan kehangatan keramahan penduduk lokal dalam kunjungan sebelumnya pada bulan November tahun lalu, Eli merasa terpanggil untuk tidak tinggal diam dan bertekad mengerahkan segala daya upaya untuk menggalang bantuan finansial dari masyarakat internasional guna meringankan beban warga terdampak.
Dalam wawancaranya di lokasi pengungsian dan reruntuhan Desa Adat Sade, Eli mengungkapkan kekagumannya yang mendalam terhadap kebudayaan masyarakat Sasak serta betapa ramahnya warga setempat menyambut para pelancong dari berbagai belahan dunia. Oleh karena itu, ia berinisiatif untuk segera meluncurkan kampanye penggalangan dana secara daring melalui platform populer seperti GoFundMe serta situs urun dana internasional lainnya agar kepedulian terhadap nasib warga Sade dapat menjangkau donatur global. Ia berharap melalui kampanye digital tersebut, kesadaran publik internasional mengenai pentingnya menyelamatkan dan melestarikan situs warisan budaya dunia dapat meningkat secara signifikan, sehingga bantuan yang terkumpul nantinya dapat disalurkan secara tepat sasaran kepada keluarga-keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian utama mereka akibat bencana kebakaran tersebut.
Ikatan emosional yang terjalin antara Eli dan Desa Adat Sade bermula dari kunjungannya pada akhir tahun sebelumnya, di mana ia berkesempatan menyaksikan secara langsung proses pembuatan kain tenun tradisional khas Lombok yang dikerjakan dengan tingkat ketelitian dan kesabaran luar biasa oleh para perempuan pengrajin lokal. Berdasarkan pengetahuannya saat berkunjung ke sana, pembuatan satu helai kain tradisional dengan motif khas Sasak membutuhkan waktu pengerjaan yang tidak sebentar, bahkan bisa memakan waktu hingga tiga bulan lamanya per helai kain. Oleh sebab itu, musibah kebakaran yang menghanguskan puluhan rumah dan toko seni ini dinilai sebagai pukulan telak yang sangat berat bagi perekonomian keluarga di Dusun Sade, mengingat sebagian besar warga menggantungkan hidup mereka pada sektor pariwisata, kerajinan tangan, dan penjualan suvenir kepada wisatawan yang berkunjung setiap harinya.
Selain berfokus pada penggalangan dana darurat untuk kebutuhan sehari-hari dan pemulihan psikologis korban, Eli juga memberikan pandangan serta usulan konstruktif yang cukup menarik terkait teknis rekonstruksi fisik bangunan rumah adat Sade di masa depan. Berdasarkan pengamatannya terhadap reruntuhan bangunan yang terbakar habis, ia menilai bahwa struktur arsitektur tradisional suku Sasak yang sepenuhnya didominasi oleh bahan-bahan alam seperti kayu, bambu, dan atap jerami atau ijuk membuat api dapat menjalar dengan sangat cepat dan menghanguskan seluruh kawasan dalam hitungan menit saja. Untuk mengantisipasi agar musibah serupa tidak terulang kembali di kemudian hari, Eli menyarankan agar proses pembangunan kembali rumah-rumah adat tersebut mulai mempertimbangkan penerapan inovasi teknologi material modern yang memiliki sifat tahan api atau fire-retardant pada bagian-bagian krusial bangunan.
Meskipun menyarankan penggunaan material modern demi faktor keamanan dan keselamatan jiwa warga, Eli tetap menekankan pentingnya menjaga keaslian bentuk arsitektur serta nilai estetika tradisional yang menjadi ciri khas utama rumah adat Sasak. Identitas budaya lokal yang sarat dengan nilai-nilai historis harus tetap dipertahankan secara utuh agar keunikan Desa Adat Sade sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Lombok Tengah tidak luntur di tengah modernisasi bangunan. Langkah inovatif ini dinilai sangat krusial dan mendesak untuk dilakukan oleh pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan terkait, guna menciptakan keseimbangan antara upaya mitigasi bencana kebakaran di masa depan dan komitmen pelestarian warisan leluhur yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat adat setempat selama ratusan tahun lamanya.
Sebagai seorang wisatawan yang memiliki kecintaan besar terhadap Indonesia, khususnya Pulau Lombok, Eli menegaskan bahwa dirinya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut ambil bagian dalam proses pemulihan kawasan wisata tersebut agar kembali bangkit dan dapat dikunjungi kembali oleh wisatawan domestik maupun mancanegara dengan rasa aman. Ia sangat berharap agar masyarakat Lombok, para tokoh adat, pemerintah daerah, serta berbagai pihak terkait dapat duduk bersama merumuskan strategi terbaik dalam membangun kembali Dusun Sade menggunakan material yang tidak hanya mempertahankan estetika budaya tetapi juga jauh lebih aman, kokoh, dan tahan lama terhadap potensi bencana di masa mendatang. Kehadiran turis asal Kanada ini menjadi bukti nyata bahwa pesona dan keramahan masyarakat Indonesia mampu menciptakan ikatan solidaritas lintas batas negara yang sangat kuat di saat-saat krisis kemanusiaan terjadi.
Berdasarkan data resmi dan pemutakhiran laporan dari pihak berwenang di lapangan pasca-insiden kebakaran hebat tersebut, tercatat sebanyak 75 unit rumah warga di Desa Adat Sade mengalami kerusakan parah hingga rata dengan tanah, angka ini merupakan koreksi dari pendataan awal yang sempat menyebutkan jumlah rumah terbakar mencapai 129 unit. Selain puluhan rumah tinggal milik warga adat, amukan si jago merah juga meludeskan setidaknya 69 unit toko seni atau art shop yang biasa digunakan oleh para perajin lokal untuk memajang dan menjual berbagai produk cinderamata khas Lombok kepada para pelancong yang datang berkunjung. Kerugian material akibat musibah ini dipastikan sangat besar mengingat banyaknya karya seni kerajinan tangan, kain tenun autentik, dan barang-barang berharga milik warga yang ludes terbakar tanpa sempat diselamatkan di tengah kepanikan malam kejadian.
Dampak dari kebakaran besar ini tidak hanya terbatas pada sektor hunian pribadi dan tempat usaha perdagangan warga saja, melainkan juga merusak sejumlah fasilitas umum dan fasilitas sosial penting yang menjadi pusat aktivitas komunal masyarakat Desa Adat Sade sehari-hari. Berdasarkan data inventarisasi kerusakan, fasilitas umum yang turut terdampak meliputi satu unit bangunan masjid yang menjadi pusat kegiatan keagamaan warga setempat, empat unit bangunan berugak sekenam atau gazebo tradisional yang memiliki enam tiang penyangga, enam unit berugak sekepat atau gazebo dengan empat tiang, serta satu unit lumbung padi tradisional beratap alang-alang yang merupakan simbol kemakmuran agraris masyarakat Sasak. Hancurnya berbagai fasilitas penting ini tentu menuntut adanya uluran tangan, gotong royong, serta sinergi yang kuat dari berbagai elemen masyarakat, lembaga sosial, dan pemerintah untuk segera melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi total kawasan wisata budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Barat tersebut.






