Tue 25 Aug 2026 Edisi Indonesia
Health

Terjawab Sudah Misteri Arca Semar di Cirebon: Ternyata Ini Fakta Sebenarnya di Balik Batu Bernilai Mistis

Selama bertahun-tahun, sebuah batu berukuran unik yang menyerupai bentuk tokoh pewayangan Semar telah menjadi pusat perhatian sekaligus menyimpan berbagai cerita misterius di kalangan warga Kelurahan Pejambon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Keberadaan benda yang sering disebut sebagai "Arca Semar" ini kerap dikaitkan dengan narasi-narasi magis, peninggalan masa lampau, hingga hubungannya dengan eksistensi kerajaan-kerajaan Nusantara di masa kuno. Mitos yang berkembang di tengah masyarakat membuat benda ini tidak hanya sekadar dipandang sebagai bongkahan batu biasa, tetapi sering kali dikeramatkan dan diselimuti oleh berbagai spekulasi sejarah. Namun, segala teka-teki, mitos, dan tanda tanya besar yang menyelimuti arca tersebut kini akhirnya terjawab sudah setelah pihak berwenang melakukan penelusuran mendalam. Berdasarkan hasil investigasi, kajian lapangan, serta pengumpulan data historis yang valid oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, dipastikan bahwa batu berbentuk Semar tersebut bukanlah benda cagar budaya peninggalan era kerajaan masa lalu maupun peninggalan dari masa kolonial Belanda. Temuan ini sekaligus meluruskan berbagai persepsi keliru yang sempat beredar luas di tengah masyarakat setempat, di mana benda tersebut sebenarnya merupakan karya seni buatan manusia pada era yang jauh lebih modern. Subkoordinator Bidang Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Cirebon, Iman Hermanto, menjelaskan bahwa kesimpulan ini ditarik setelah pihaknya menelusuri rekam jejak keberadaan batu serta menggali informasi komprehensif dari para saksi hidup yang mengetahui secara pasti sejarah benda tersebut. Salah satu kunci utama dalam pengungkapan misteri ini adalah keterangan dari seorang sesepuh warga setempat bernama Bapak Sebat yang kini telah berusia 83 tahun. Berdasarkan penuturannya, Bapak Sebat bukan sekadar memberikan informasi lisan, melainkan dengan tegas menyatakan dirinya sebagai salah satu saksi kunci yang mengetahui secara langsung bahkan terlibat dalam proses penciptaan hingga pemindahan batu tersebut dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Keterangan otentik dari Sebat inilah yang mematahkan seluruh asumsi liar yang selama ini mengaitkan arca tersebut dengan artefak arkeologis berusia ratusan tahun. Dari data dan informasi yang berhasil dihimpun oleh Disbudpar Kabupaten Cirebon, batu unik yang menyerupai bentuk fisik Semar itu diperkirakan mulai dibentuk dan dibuat sekitar tahun 1950 oleh masyarakat lokal yang tinggal di kawasan tersebut. Material batu itu sendiri konon berasal dari hasil alam sekitar, yakni dari aliran Sungai Cipager atau yang juga dikenal oleh warga sebagai Sungai Asem. Pada masa itu, seorang warga berinisiatif memahat batu mentah tersebut hingga menyerupai bentuk figur punakawan Semar, tokoh pewayangan yang sangat dihormati dan lekat dengan filosofi kehidupan masyarakat Jawa dan Sunda. Setelah berhasil dibentuk, benda tersebut tidak langsung berada di satu tempat permanen, melainkan mengalami beberapa kali perpindahan lokasi seiring dengan dinamika perkembangan permukiman serta aktivitas warga sekitar. Sekitar tahun 1960, batu berbentuk Semar tersebut sempat dipindahkan ke sebuah titik di kawasan permukiman warga untuk menghindari beberapa kendala tata ruang saat itu. Tidak berhenti sampai di situ, beberapa waktu kemudian, benda tersebut kembali dipindahkan ke area sekitar jalan raya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari titik penemuannya saat ini. Dalam proses perpindahan yang terjadi berulang kali selama puluhan tahun tersebut, terselip pula sebuah cerita menarik di mana sempat ada satu batu serupa yang hilang jejaknya. Dinamika perpindahan lokasi inilah yang kemudian memicu lahirnya berbagai cerita dari mulut ke mulut di kalangan warga. Semakin sering batu itu berpindah tempat dan semakin lama ia berada di suatu lingkungan, semakin berkembang pula bumbu-bumbu cerita mistis yang menyertainya. Warga mulai mengaitkan keberadaan arca tersebut dengan leluhur desa, pertapaan kuno, hingga cerita-cerita sakral yang diwariskan secara turun-temurun. Akibat proses sedimentasi cerita rakyat yang berlangsung sangat lama, terbentuklah sebuah ingatan kolektif di masyarakat Pejambon bahwa batu tersebut adalah peninggalan sejarah purbakala yang memiliki kekuatan magis atau nilai historis tinggi dari masa lampau. Padahal, jika ditinjau dari perspektif arkeologi dan sejarah kebudayaan material, ciri-ciri fisik dan teknik pembuatan batu tersebut sama sekali tidak menunjukkan karakteristik artefak kerajaan masa lampau. Tidak ada pahatan relief khas candi, tidak ada prasasti pendukung, dan tidak pula ditemukan lapisan pelindung purbakala yang biasanya menyertai benda-benda temuan arkeologis resmi. Hal ini semakin diperkuat dengan fakta baru mengenai bangunan pelindung atau yang biasa disebut sebagai cungkup yang kini menaungi batu tersebut. Berdasarkan penelusuran lebih lanjut, bangunan cungkup yang melindungi Arca Semar itu ternyata bukanlah struktur asli yang dibangun bersamaan dengan kemunculan batu pada tahun 1950-an. Iman Hermanto memaparkan bahwa cungkup tersebut baru mulai dibangun secara swadaya oleh masyarakat pada kisaran tahun 2000 hingga 2001. Setelah bangunan pelindung tersebut selesai didirikan, batu berbentuk Semar itu kembali dipindahkan ke dalam cungkup tersebut, yang kemudian menjadi lokasi tetapnya hingga hari ini. Dengan demikian, rentang sejarah dari keberadaan batu, proses pemindahannya, hingga pembangunan tempat pelindungnya merupakan serangkaian peristiwa yang sifatnya sangat modern dan belum terlalu lama terjadi. Sebelum merilis kepastian ini, Disbudpar Kabupaten Cirebon juga sempat berkoordinasi dan menunggu laporan resmi dari pihak Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Jawa Barat guna memastikan status benda tersebut melalui kajian ilmiah yang komprehensif. Kendati demikian, hasil peninjauan awal di lapangan sudah cukup kuat untuk membuktikan bahwa batu tersebut nihil dari unsur-unsur kepurbakalaan. "Secara dasar dari hasil kami di lapangan, itu bukan arca peninggalan kerajaan ataupun peninggalan masa kolonial," tegas Iman Hermanto sewaktu memberikan keterangan kepada awak media melalui sambungan telepon. Meskipun misteri mengenai asal-usul arca ini telah sepenuhnya terjawab dan dipastikan bukan merupakan benda cagar budaya kuno, pemerintah daerah menegaskan bahwa hal tersebut tidak serta-merta membuat keberadaan Arca Semar di Pejambon kehilangan makna penting bagi masyarakat setempat. Disbudpar Kabupaten Cirebon tetap memandang batu tersebut sebagai sebuah fenomena sosial yang bernilai, yakni sebagai bagian dari cerita dan sejarah lokal yang sangat layak untuk dihargai keberadaannya. Dalam sosiologi kebudayaan, nilai sebuah objek di tengah masyarakat tidak selamanya harus diukur berdasarkan usia benda yang mencapai ratusan tahun atau status formalnya sebagai benda cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Bagi warga Kelurahan Pejambon, batu tersebut telah menjelma menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ingatan kolektif lintas generasi. Seluruh narasi mengenai proses pembuatannya oleh warga pada era 1950-an, kisah perpindahannya dari satu tempat ke tempat lain melintasi dekade demi dekade, hingga gotong royong warga dalam mendirikan cungkup pada awal tahun 2000-an merupakan rekaman perjalanan sosial yang sangat berharga. Perjalanan panjang ini merefleksikan bagaimana sebuah komunitas masyarakat merawat tradisi, membangun memori bersama, dan menciptakan identitas kultural mereka sendiri secara mandiri. Oleh karena itu, meskipun secara ilmiah tidak diakui sebagai peninggalan sejarah kerajaan atau masa kolonial, keberadaan batu Semar ini tetap memiliki signifikansi sosial dan kultural yang tinggi bagi warga Pejambon. Menanggapi situasi ini, Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui instansi terkait memberikan imbauan bijak kepada masyarakat luas agar tetap menyikapi keberadaan situs tersebut secara proporsional. Masyarakat diminta untuk tidak terjebak dalam kultus atau mitos berlebihan yang dapat mengarah pada tindakan-tindakan irasional, mengingat batu tersebut hanyalah hasil karya seni modern buatan warga biasa. Kendati demikian, bukan berarti situs tersebut harus diabaikan begitu saja. Pemerintah justru mendorong warga untuk merawat tempat tersebut bukan karena statusnya sebagai peninggalan kerajaan, melainkan karena di balik batu sederhana itu tersimpan sebuah cerita autentik mengenai dinamika masyarakat, evolusi lingkungan sekitar, serta rekam jejak ingatan kolektif warga yang telah dirawat dengan penuh kebersamaan selama lebih dari setengah abad. Kisah Arca Semar di Cirebon ini sekaligus memberikan pelajaran berharga bagi dunia pariwisata dan pelestarian budaya lokal bahwa tidak semua hal yang unik dan dianggap mistis harus selalu berasal dari masa lalu yang megah. Terkadang, sejarah sosial yang lahir dari kreativitas masyarakat akar rumput di masa modern justru memiliki daya tarik dan nilai sosiologis tersendiri yang patut dihormati. Dengan terungkapnya fakta ini, masyarakat kini dapat memandang situs tersebut dengan pemahaman yang lebih jernih—bahwa di balik sebuah batu buatan tangan manusia pada tahun 1950, terdapat lembaran cerita tentang kehidupan bermasyarakat, dinamika zaman, dan warisan kultural non-formal yang tetap hidup di hati warga Pejambon hingga hari tua. Pemerintah daerah berharap agar kearifan lokal ini terus dijaga sebagai bagian dari kekayaan folklor daerah, di mana cerita rakyat dan fakta sejarah dapat berdampingan secara harmonis tanpa harus saling meniadakan, memberikan warna tersendiri dalam peta kekayaan budaya masyarakat Cirebon secara keseluruhan.

Related stories

More from Health

View all →

Most viewed across the site