Phnom Penh – Pemerintah Kamboja tengah mengambil langkah strategis yang masif dan terarah guna menyelamatkan sektor pariwisata nasional yang sedang mengalami tekanan berat akibat berbagai gejolak geopolitik, keamanan, dan isu sosial internasional. Di tengah anjloknya angka kunjungan wisatawan mancanegara secara drastis, Kerajaan Kamboja mengalihkan fokus dan menggenjot promosi secara agresif pada sektor wisata ramah Muslim (Muslim-friendly tourism). Kebijakan ini diyakini sebagai jangkar penyelamat yang paling potensial untuk memulihkan perekonomian negara yang sangat bergantung pada devisa pariwisata.
Berdasarkan data resmi pemerintah yang dirilis pada paruh pertama tahun 2026, jumlah kunjungan wisatawan asing ke Kamboja hanya mampu menyentuh angka 1,75 juta orang. Angka yang mengkhawatirkan ini menunjukkan penurunan yang sangat tajam, yakni sebesar 47,9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sempat mencatatkan angka hingga 3,36 juta kunjungan wisatawan. Penurunan drastis ini tidak hanya berdampak pada jumlah kunjungan, tetapi juga menghantam keras pendapatan nasional dari sektor pariwisata yang ikut merosot hingga 31,5 persen, atau terpuruk di angka USD 1,4 miliar yang jika dikonversikan setara dengan Rp 24,96 triliun.
Mengutip laporan dari AsiaNews pada Selasa (25/8/2026), keterpurukan sektor pariwisata Kamboja ini dipicu oleh akumulasi sejumlah persoalan krusial yang pelik. Salah satu faktor utama adalah penutupan sejumlah perbatasan darat strategis serta terjadinya bentrokan militer dengan negara tetangga, Thailand, yang memicu ketidakamanan regional. Situasi ini semakin memperburuk citra Kamboja di kancah global ketika negara tersebut disorot tajam oleh dunia internasional akibat maraknya kasus penipuan siber (cyber scam) yang melibatkan sindikat lintas negara. Akibatnya, para pelancong internasional, terutama dari negara-negara Barat, menunda atau bahkan membatalkan rencana liburan mereka ke destinasi-destinasi ikonik seperti Angkor Wat.
Menghadapi situasi darurat pariwisata ini, Pemerintah Kamboja tidak tinggal diam. Mereka secara cepat menyusun strategi diversifikasi pasar dengan membidik segmen pelancong Muslim global yang dikenal memiliki pertumbuhan tercepat di dunia. Langkah taktis ini merupakan bagian integral dari Rencana Induk Pariwisata Muslim (Muslim Tourism Master Plan) 2023-2027. Dalam kerangka kerja tersebut, pemerintah mengimplementasikan berbagai kebijakan konkrit, termasuk memberikan pelatihan intensif kepada para pelaku usaha lokal, mulai dari pengelola hotel, restoran, hingga pengemudi taksi, agar memahami standar pelayanan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam.
Sebagai bukti keseriusan pemerintah, fasilitas publik penunjang ibadah kini mulai dibangun di berbagai titik strategis. Ruang salat yang bersih dan representatif kini telah tersedia di dua bandara internasional utama Kamboja serta di berbagai pusat perbelanjaan modern di ibu kota. Transformasi nyata juga terlihat di sektor perhotelan, di mana sejumlah hotel mulai melengkapi kamar-kamar mereka dengan sajadah, Al-Qur’an, dan penunjuk arah kiblat yang akurat. Sementara itu, restoran-restoran lokal berlomba-lomba mendapatkan sertifikasi halal dan memperluas area bebas alkohol guna memberikan kenyamanan maksimal bagi para tamu Muslim yang datang bersama keluarga.
Perubahan paradigma ini dirasakan langsung oleh para pelaku industri pariwisata di lapangan. Presiden Cambodian Association of Travel Agents (CATA), Chhay Sivlin, mengungkapkan apresiasinya terhadap transformasi masif yang terjadi dalam tiga tahun terakhir. Menurut Sivlin, wisata Muslim di Kamboja kini telah bertransformasi dari yang sebelumnya hanya dianggap sebagai pasar khusus (niche market) menjadi salah satu pilar utama penyelamat industri pariwisata nasional. Kampanye nasional bertajuk ‘Assalamualaikum Cambodia’ dinilai berhasil membuka mata para pelaku usaha lokal untuk lebih memahami kebutuhan spesifik wisatawan Muslim dan secara proaktif menyesuaikan standar layanan mereka.
"Kalau melihat perubahan dalam tiga tahun terakhir, kita benar-benar bisa melihat perubahan di lapangan. Kampanye pemerintah ‘Assalamualaikum Cambodia’ memberikan kerangka yang lebih jelas bagi pelaku usaha lokal. Semakin banyak operator yang kini aktif berpartisipasi, bukan sekadar mengamati dari jauh," ujar Chhay Sivlin dengan penuh optimisme.
Data demografi global memang memberikan angin segar bagi ambisi Kamboja ini. Berdasarkan laporan Global Muslim Travel Index, diperkirakan sekitar 196 juta pelancong Muslim melakukan perjalanan ke luar negeri pada tahun 2025. Potensi raksasa ini direspons secara gemilang oleh Kamboja, di mana jumlah kunjungan wisatawan Muslim ke negara tersebut melonjak secara signifikan dari sekitar 180.000 orang pada tahun 2022, meroket tajam hingga mencapai 440.000 orang pada tahun 2024. Gelombang kedatangan wisatawan Muslim ini sebagian besar didominasi oleh pelancong asal kawasan Timur Tengah serta negara-negara tetangga di kawasan ASEAN, khususnya Indonesia dan Malaysia yang memiliki populasi Muslim yang besar.
Kamboja tidak hanya berhenti pada penyediaan fasilitas fisik, melainkan terus memperkuat ekosistem wisata halal secara menyeluruh dan berkelanjutan. Pada pertengahan Juli lalu, pemerintah Kamboja sukses menyelenggarakan Forum dan Pameran Pariwisata Muslim untuk ketiga kalinya. Acara berskala internasional ini mempertemukan investor, agen perjalanan, dan penyedia jasa dari berbagai negara untuk membangun jaringan bisnis halal. Selain itu, pemerintah juga menerbitkan Handbook on Muslim-Friendly Tourism Standards sebagai pedoman resmi yang komprehensif bagi para pelaku usaha perhotelan dan kuliner dalam mengimplementasikan standar pelayanan yang ramah Muslim.
Di pusat-pusat pariwisata utama seperti Phnom Penh dan Siem Reap, restoran bersertifikat halal yang dikelola langsung oleh komunitas Muslim lokal kini semakin mudah ditemukan. Kendati proses audit dan penerbitan sertifikasi halal secara nasional masih terus berjalan dan membutuhkan waktu, komitmen para pelaku usaha kuliner patut diacungi jempol. Mereka secara sukarela menjaga kehigienisan bahan makanan, menghindari kontaminasi produk non-halal, dan menyajikan hidangan autentik yang memanjakan lidah para pelancong Muslim tanpa menghilangkan cita rasa khas kuliner tradisional Khmer.
Menteri Pariwisata Kamboja, Huat Hak, menegaskan bahwa pengembangan pariwisata Muslim bukan sekadar strategi jangka pendek untuk mendongkrak angka kunjungan di tengah krisis, melainkan sebuah visi jangka panjang yang mencerminkan jati diri Kamboja sebagai destinasi internasional yang inklusif, aman, dan nyaman bagi seluruh umat manusia dari berbagai latar belakang keyakinan.
"Pariwisata Muslim bukan hanya pasar yang potensial, tetapi juga kesempatan untuk menunjukkan bahwa Kamboja merupakan destinasi yang aman, ramah, dapat diandalkan, dan memiliki keramahan bagi wisatawan dari berbagai negara dan agama," jelas Huat Hak dengan penuh penekanan.
Lebih lanjut, Menteri Huat Hak menambahkan bahwa pemerintah sangat berambisi melakukan diversifikasi pasar secara menyeluruh. Tujuannya agar pertumbuhan sektor pariwisata nasional di masa depan menjadi jauh lebih berkelanjutan dan memiliki ketahanan yang kuat (resilience) terhadap berbagai tekanan eksternal, baik itu krisis geopolitik, pandemi global, maupun fluktuasi ekonomi dunia. Dengan memiliki basis pasar yang beragam, Kamboja tidak akan mudah goyah ketika salah satu pasar tradisional pariwisata mereka mengalami penurunan.
Namun demikian, di balik optimisme dan berbagai pencapaian positif tersebut, Pemerintah Kamboja tetap menyadari bahwa mereka masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah (PR) besar yang harus segera diselesaikan. Salah satu tantangan terberat adalah masalah infrastruktur penunjang pariwisata berstandar internasional yang belum merata secara geografis. Di luar kota besar seperti Phnom Penh dan Siem Reap, aksesibilitas jalan raya, fasilitas transportasi publik, hingga ketersediaan fasilitas kesehatan yang memadai masih memerlukan investasi yang masif dan perhatian serius dari pemerintah pusat maupun daerah.
Selain infrastruktur, tantangan lain yang dihadapi adalah rendahnya tingkat literasi sejarah di kalangan wisatawan internasional mengenai eksistensi komunitas Muslim Cham di Kamboja. Selama ini, banyak wisatawan yang tidak mengetahui bahwa Kamboja memiliki sejarah Islam yang kaya, ditandai dengan keberadaan hampir 1.000 masjid aktif yang tersebar di berbagai penjuru negeri. Komunitas Muslim Cham telah hidup berdampingan secara damai dan harmonis di tengah mayoritas penduduk beragama Buddha selama berabad-abad. Dari sinilah sebenarnya tersimpan peluang emas untuk memperkenalkan Kamboja bukan sekadar sebagai destinasi sambungan atau tujuan lanjutan (stopover) dari negara-negara tetangga seperti Thailand atau Vietnam, melainkan sebagai sebuah destinasi wisata utama yang berdiri sendiri dengan daya tarik kultural dan spiritual yang sangat unik dan kaya.
Dengan mengintegrasikan kekayaan sejarah, keramahtamahan lokal, pembangunan infrastruktur yang inklusif, serta keseriusan dalam menggarap pasar wisata halal, Kamboja optimis dapat bangkit dari keterpurukan. Transformasi ini tidak hanya akan menyelamatkan industri pariwisata nasional dari jurang krisis, tetapi juga akan menempatkan Kamboja di peta pariwisata dunia sebagai salah satu destinasi ramah Muslim terbaik yang patut diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara.
(upd/wsw)







