Tue 25 Aug 2026 Edisi Indonesia
TopNews

Tragedi di Puncak Sejati: Pendakian Tanpa Restu yang Berakhir di Jurang Gunung Sumbing

Kegiatan pendakian gunung yang seharusnya menjadi sarana rekreasi yang menyenangkan dan menantang bagi para remaja, berubah menjadi sebuah petaka yang menyisakan duka mendalam bagi sebuah keluarga di Solo, Jawa Tengah. Seorang remaja berusia 17 tahun bernama Dude Kurniawan Pasha, tercatat sebagai siswa SMK Adisoemarmo, harus meregang nyawa di jurang kawasan Puncak Sejati Gunung Sumbing setelah terpisah dari rekan-rekan pendakiannya. Peristiwa tragis ini tidak hanya mengejutkan pihak keluarga dan kerabat dekat, tetapi juga menjadi pengingat keras bagi para pecinta alam dan pendaki pemula akan pentingnya faktor keselamatan, kepatuhan terhadap prosedur pendakian, serta pentingnya restu serta komunikasi yang baik dengan orang tua sebelum melakukan aktivitas ekstrem di alam bebas.

Berdasarkan kronologi resmi yang dirilis oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, insiden maut ini bermula pada Jumat malam tanggal 21 Agustus. Pada saat itu, korban Dude Kurniawan Pasha bersama dua orang teman sebayanya yang juga masih berusia 17 tahun, yakni Rangga Dwi Arianto dan Fatahilah, memutuskan untuk melakukan pendakian ke Gunung Sumbing. Ketiga remaja belia ini memilih jalur pendakian via Basecamp Banaran dan memulai perjalanan mereka pada pukul 21.30 WIB malam. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Temanggung, Totok Nursetyanto, dalam keterangan tertulisnya menjelaskan secara terperinci bahwa rombongan remaja tersebut menggunakan metode pendakian tektok—sebuah istilah pendakian cepat tanpa mendirikan tenda atau bermalam di gunung—dengan kondisi fisik yang saat itu dilaporkan dalam keadaan sehat.

Perjalanan dimulai tepat pukul 23.30 WIB setelah rombongan berangkat dari Basecamp Banaran menuju titik tertinggi Gunung Sumbing, yaitu Puncak Sejati, dengan terlebih dahulu menggunakan fasilitas ojek lokal untuk memangkas waktu tempuh awal. Setibanya di kawasan pos pendakian, dinamika kelompok mulai berubah. Berdasarkan keterangan lanjutan dari pihak berwenang, salah satu rekan korban bernama Rangga memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan hingga puncak. Rangga hanya mampu mendaki sampai area sabana atau padang rumput, lalu memilih untuk turun kembali lebih awal bersama rombongan pendaki lain yang ditemui di jalur. Sementara itu, Dude dan Fatahilah tetap bertekad melanjutkan pendakian hingga menembus puncak tertinggi Gunung Sumbing.

Kedua remaja ini berhasil menginjakkan kaki di Puncak Sejati. Namun, petaka sesungguhnya bermula ketika mereka memutuskan untuk turun gunung pada hari Sabtu tanggal 22 Agustus sekitar pukul 13.00 siang. Alih-alih turun bersama-sama melalui jalur pendakian resmi yang aman, keduanya justru mengambil rute yang berbeda. Korban Dude Kurniawan Pasha dilaporkan mencoba mencari jalur penurunannya sendiri melalui area tebing terjal yang berada di bawah Puncak Sejati sisi utara. Keputusan mengambil jalan alternatif di luar jalur utama inilah yang membuat korban akhirnya terpisah dari temannya, Fatahilah, dan berujung pada hilangnya kontak secara total.

Menjelang Sabtu sore, tepatnya sekitar pukul 18.00 WIB, pihak keluarga di Solo mulai dilanda kecemasan luar biasa. Sri Widodo, ayah kandung korban, mengenang bagaimana dirinya mulai merasa waswas ketika pesan singkat yang dikirimkan melalui aplikasi WhatsApp kepada sang anak tidak kunjung mendapat balasan, bahkan nomor ponsel korban sudah tidak aktif. Pihak keluarga kemudian mencoba menghubungi rekan korban, dan mendapat informasi bahwa Dude belum juga turun dari gunung. Menyadari ada situasi darurat, pihak keluarga melalui paman korban segera bergerak cepat melaporkan kejadian tersebut kepada posko dan diteruskan ke Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) setempat.

Mendapatkan laporan mengenai pendaki hilang, tim SAR gabungan yang terdiri dari unsur Basarnas, BPBD Temanggung, relawan basecamp, serta potensi SAR lainnya langsung bergerak cepat melakukan operasi pencarian darurat. Meskipun malam itu ayah korban, Sri Widodo, langsung meluncur dari Solo menuju lokasi basecamp di Temanggung, proses pencarian malam hari harus menghadapi kendala berat berupa faktor cuaca di pegunungan yang tidak bersahabat serta minimnya jarak pandang di kegelapan malam. Oleh karena itu, operasi pencarian secara masif dan terstruktur baru bisa dimaksimalkan pada keesokan harinya, yakni pada Minggu pagi tanggal 23 Agustus mulai pukul 05.00 WIB.

Kerja keras tim SAR gabungan tidak membutuhkan waktu terlalu lama. Pada pukul 07.00 pagi di hari Minggu tersebut, BPBD Temanggung menerima kabar duka yang langsung memupus harapan keluarga. Korban Dude Kurniawan Pasha berhasil ditemukan, namun malang, remaja tersebut sudah dalam kondisi tidak bernyawa atau Meninggal Dunia (MD). Posisi jenazah korban ditemukan tergeletak di dasar area jurang di sekitar kawasan Puncak Sejati Gunung Sumbing. Berdasarkan ciri-ciri fisik dan laporan awal dari rekan korban sebelum terpisah, saat melakukan pendakian nahas tersebut, Dude mengenakan pakaian serba hitam, topi berwarna hitam dengan sedikit corak putih, serta membawabekal logistik berupa dua buah roti.

Evakuasi jenazah dari dasar jurang menuju basecamp dan kemudian dibawa ke rumah duka di Solo berjalan penuh haru dan isak tangis keluarga. Kedatangan mobil ambulans yang membawa jenazah korban disambut dengan jerit tangis histeris dari sang ibunda, Retno Lestari, serta sanak saudara yang sudah menunggu sejak pagi. Ayah korban, Sri Widodo, tampak berusaha tegar meski matanya berkaca-kaca saat menyalami para pelayat dan tetangga yang berdatangan untuk menyampaikan rasa belasungkawa. Sementara itu, ibunda korban tampak terduduk lemas dan harus ditenangkan oleh beberapa kerabat wanita yang mendampinginya di rumah duka.

Di balik tragedi yang merenggut nyawa anak bungsunya tersebut, Sri Widodo menyimpan sebuah kisah penyesalan dan kenangan terakhir yang pilu. Kepada awak media yang menemuinya di rumah duka, Sri Widodo mengungkapkan bahwa sebelum berangkat mendaki, sebenarnya almarhum sempat meminta izin kepada kedua orang tuanya, namun pihak keluarga dengan tegas tidak memberikan restu. Sang ibu, Retno Lestari, menjadi orang yang paling keberatan atas rencana pendakian tersebut. Alasan utama keluarga tidak memberikan izin bukan tanpa sebab; selain karena jadwal kegiatan di rumah yang sedang padat menyambut perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78 serta tradisi bersih desa atau merti dusun di lingkungan tempat tinggal mereka, sang anak juga berstatus sebagai seorang pelajar aktif di SMK Adisoemarmo yang memiliki banyak tanggung jawab akademik.

Kendati tidak mendapatkan lampu hijau dari orang tua, remaja berusia 17 tahun itu rupanya tetap nekat berangkat bersama teman-teman seperjuangannya. Sri Widodo menuturkan bahwa korban dan dua orang temannya, yakni Rangga dan Fatahilah, merupakan sahabat karib yang sudah menjalin pertemanan erat sejak mereka duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan berlanjut hingga tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kedekatan ketiganya membuat mereka sering menghabiskan waktu bersama, termasuk dalam hobi alam bebas yang sayangnya kali ini harus dibayar dengan nyawa.

Sri Widodo menceritakan detik-detik menegangkan saat dirinya mengetahui sang anak hilang kontak. Pada Sabtu petang pukul 18.00 WIB, pesan yang dikirimkan ke ponsel Dude sudah centang satu dan tidak aktif. Merasa ada firasat buruk, pada pukul 18.15 WIB ia menghubungi teman korban dan mendapat kepastian bahwa Dude belum kunjung turun dari gunung. Tanpa menunggu lama, malam itu juga Sri Widodo bersama anggota keluarga langsung bertolak menuju lereng Gunung Sumbing. Meskipun ia harus menerima kenyataan pahit bahwa anak tercintanya pulang tinggal nama, Sri Widodo mencoba ikhlas dan bersyukur karena jenazah anaknya dapat ditemukan dengan relatif cepat oleh tim SAR, sehingga proses pemakaman bisa segera dilangsungkan tanpa harus menunggu ketidakpastian yang lebih lama di tengah hutan belantara.

Kasus tewasnya pendaki remaja di Gunung Sumbing ini kembali menambah daftar panjang kecelakaan mendarat atau tersesat di area pegunungan tinggi di Indonesia, khususnya yang melibatkan pendaki usia remaja atau pemula. Berbagai pihak, termasuk asosiasi pemandu gunung, pengelola basecamp, dan lembaga SAR, tidak pernah bosan mengingatkan pentingnya mematuhi standar operasional prosedur (SOP) pendakian yang aman. Beberapa poin krusial yang kerap diabaikan oleh para pendaki pemula meliputi pentingnya melakukan persiapan fisik yang matang, membawa perlengkapan keselamatan standar penjelajahan, tidak meremehkan medan ekstrem seperti tebing dan jurang, serta yang paling utama adalah tidak memisahkan diri dari rombongan atau keluar dari jalur pendakian resmi yang telah ditentukan oleh pengelola.

Selain aspek teknis pendakian, faktor psikologis dan restu orang tua juga memegang peranan yang sangat penting dalam setiap aktivitas berisiko tinggi. Restu orang tua bukan sekadar tradisi moral, melainkan doa dan energi positif yang sering kali berkaitan erat dengan keselamatan seseorang saat berada di alam liar. Keputusan untuk nekat mendaki tanpa restu, seperti yang dialami oleh almarhum Dude Kurniawan Pasha, meninggalkan pelajaran berharga dan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Semoga insiden tragis di Gunung Sumbing ini menjadi kejadian terakhir, sekaligus membuka mata para generasi muda dan para orang tua untuk lebih berhati-hati, bijak, serta mengutamakan keselamatan jiwa di atas segalanya dalam setiap kegiatan petualangan di alam bebas.

Related stories

More from TopNews

View all →

Most viewed across the site