Jakarta – Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan tradisi dan budaya unik yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari pulau Miangas hingga pulau Rote. Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan rasa syukur, merayakan hari besar, atau sekadar melestarikan warisan leluhur yang telah turun-temurun dijaga. Salah satu tradisi yang paling tidak biasa dan sukses mencuri perhatian publik nasional maupun mancanegara adalah tradisi unik yang berasal dari pesisir Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, di mana sejumlah nelayan setempat dengan penuh antusias menerbangkan ayam dari tengah laut di kawasan wisata bahari Pantai Pasir Putih, Kecamatan Bungatan. Mendengar kata "terbang" tentu yang terlintas di benak kita adalah burung, kelelawar, atau hewan bersayap lainnya yang memang sudah ditakdirkan memiliki kemampuan terbang jarak jauh di udara, namun bagaimana jika hewan yang diterbangkan adalah ayam, unggas peliharaan yang selama ini dikenal hanya bisa mengepakkan sayap sesaat dan berjalan di atas tanah? Pemandangan yang tidak lazim inilah yang dapat disaksikan secara langsung dalam rangkaian acara adat pesisir yang sarat akan nilai historis dan hiburan rakyat tersebut.
Tradisi tahunan yang dinamakan sebagai lomba "Ayam Sap-Sap" ini pada tahun penyelenggaraannya kali ini digelar secara meriah oleh Ikatan Perahu Pasir Putih (Ikaperti) yang bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat serta pemerintah daerah setempat pada hari Sabtu, 29 Agustus 2026. Suasana di kawasan Pantai Pasir Putih mendadak berubah menjadi sangat riuh, semarak, dan dipenuhi oleh gelak tawa serta sorak-sorai penonton yang memadati bibir pantai sejak pagi hari. Berdasarkan data dari panitia penyelenggara, tercatat ada sebanyak 58 ekor ayam betina yang diikutsertakan dalam kompetisi unik ini. Puluhan ayam tersebut diangkut menggunakan perahu-perahu tradisional nelayan menuju ke tengah perairan laut biru, dengan jarak sekitar 300 meter dari garis bibir pantai. Begitu aba-aba diberikan oleh panitia, para peserta yang terdiri dari para nelayan dan pemilik ayam secara bersama-sama melepaskan dan menerbangkan ayam-ayam peliharaan mereka ke udara menghadap ke arah daratan. Momen pelepasan ayam dari tengah laut ini sontak membuat para penonton yang memadati pantai merasa waswas sekaligus penasaran, sebab secara nalar biologis, ayam bukanlah jenis unggas migrasi atau burung peluncur yang memiliki anatomi tubuh penunjang untuk terbang melintasi bentangan air laut yang begitu luas. Rasanya sangat tidak lumrah dan hampir tidak masuk akal melihat seekor ayam mampu bertahan di udara begitu lama demi mencapai daratan pantai yang jaraknya ratusan meter dari titik pelepasan di atas perahu.
Kendati demikian, dari tradisi turun-temurun yang terus dipertahankan ini, sebuah fakta menarik mengenai kemampuan fisik unggas berhasil dibuktikan secara nyata di hadapan khalayak ramai. Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa ayam tidak diciptakan untuk terbang jauh layaknya burung elang atau merpati pos, terbukti dalam ajang Ayam Sap-Sap ini, ayam-ayam kampung tersebut mengerahkan seluruh sisa tenaga dan kepakan sayap mereka untuk meluncur di atas permukaan air laut hingga akhirnya berhasil mencapai garis pantai tempat para penonton menunggu. Tentu saja, jalannya perlombaan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan bagi sang ayam. Beberapa ayam terlihat terbang cukup stabil, sementara tidak sedikit pula yang mengepakkan sayap dengan panik dan akhirnya mendarat atau menyentuh air laut sebelum akhirnya berenang atau dievakuasi oleh pemiliknya yang mengekor menggunakan perahu.
Menariknya, sistem penilaian dalam lomba Ayam Sap-Sap ini memiliki aturan yang sangat unik dan berbeda dari perlombaan kecepatan pada umumnya. Pemenang dari kejuaraan ini bukanlah ditentukan dari ayam mana yang paling cepat atau paling pertama menyentuh daratan bibir pantai, melainkan dinilai secara objektif berdasarkan jarak terbang paling jauh yang berhasil ditempuh oleh seekor ayam mulai dari titik awal ia diterbangkan dari atas perahu di tengah laut hingga saat ia pertama kali mendarat menyentuh pasir pantai. Oleh karena itu, strategi pemilihan ayam, tingkat kebugaran fisik, serta metode pelatihan khusus yang diberikan oleh pemilik kepada ayam kesayangan mereka menjadi faktor penentu utama yang sangat krusial untuk meraih predikat juara. Tidak sembarang ayam dapat diikutsertakan dalam ajang bergengsi tingkat lokal ini; panitia menetapkan persyaratan ketat di mana jenis unggas yang dilombakan wajib merupakan ayam kampung asli, dan secara tegas melarang penggunaan ayam hutan atau jenis unggas silangan lainnya. Sebelum hari perlombaan tiba, para kontestan berbulu ini juga dipastikan telah menjalani masa pelatihan intensif, berada dalam kondisi kesehatan yang prima, serta memiliki stamina tubuh yang sangat kuat agar mampu mengepakkan sayap dalam durasi waktu yang relatif lama di atas hembusan angin laut pesisir utara Jawa Timur.
Nama "Ayam Sap-Sap" sendiri diambil dari karakteristik gerakan unggas tersebut saat berusaha mengepakkan sayapnya dengan cepat demi mempertahankan posisi tubuhnya di udara selama mungkin sebelum gravitasi bumi menariknya turun ke bawah. Keseruan, ketegangan, dan gelak tawa yang tersaji dalam lomba Ayam Sap-Sap ini telah bertransformasi menjadi salah satu daya tarik wisata bahari yang sangat kuat bagi para pelancong, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara, yang sengaja merencanakan liburan ke Kabupaten Situbondo pada setiap akhir bulan Agustus. Pemerintah Kabupaten Situbondo bersama komunitas nelayan setempat menyadari betul potensi besar yang tersimpan dalam tradisi ini, sehingga kegiatan tersebut diselenggarakan secara konsisten dan rutin setiap tahunnya dengan misi utama melestarikan warisan kebudayaan tak benda peninggalan para leluhur agar tidak punah ditelan arus modernisasi serta dapat diwariskan dengan baik kepada generasi muda masa kini dan masa depan.
Lebih dari sekadar sebuah tontonan hiburan rakyat yang mengundang gelak tawa, penyelenggaraan tradisi Ayam Sap-Sap pada tahun 2026 ini juga mengusung agenda ganda yang sarat akan makna nasionalisme dan kecintaan terhadap daerah. Lomba unik tersebut sengaja digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, sekaligus sebagai bentuk perayaan sukacita menyambut Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) yang telah memasuki usia ke-208 tahun. Perpaduan antara semangat kemerdekaan nasional, hari jadi daerah, dan kearifan lokal masyarakat pesisir menciptakan sebuah atmosfer perayaan yang begitu meriah, padat makna, serta mempererat tali persaudaraan di tengah-tengah masyarakat Situbondo yang plural dan harmonis.
Kini, seiring dengan berjalannya waktu dan konsistensi pelaksanaannya, lomba tahunan Ayam Sap-Sap telah sukses memantapkan posisinya sebagai salah satu ikon pariwisata budaya unggulan di kawasan Pantai Pasir Putih Situbondo. Dampak positif dari terselenggaranya acara ini dirasakan langsung oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal yang dagangannya laris manis dibeli wisatawan, para penyedia jasa perahu wisata, hingga para pemilik ayam aduan lokal yang merasa bangga tradisi leluhur mereka mendapat apresiasi luas dari publik luar daerah. Sebagai bentuk tanggung jawab moral serta penghargaan terhadap hewan peliharaan kesayangan warga, seluruh ayam peserta yang telah berhasil berjuang terbang dari tengah laut dan mendarat di bibir pantai langsung ditangkap secara hati-hati oleh panitia untuk kemudian diserahkan kembali secara utuh kepada pemiliknya masing-masing tanpa ada satupun ayam yang diterlantarkan.
Melalui pagelaran festival budaya Ayam Sap-Sap yang diselenggarakan secara berkala ini, terbukti bahwa identitas kebudayaan dan tradisi khas warga pesisir Pantai Pasir Putih Situbondo masih terus dijaga, dirawat, dan dilestarikan dengan penuh rasa bangga di tengah arus globalisasi yang serba cepat. Keunikan tradisi menerbangkan ayam dari tengah laut ini tidak hanya sekadar menyajikan tontonan yang menghibur dan memacu adrenalin penonton, tetapi juga menjadi magnet ampuh yang berhasil memikat minat ribuan wisatawan dari berbagai penjuru daerah untuk datang berkunjung, menyaksikan secara langsung, dan ikut serta merayakan keseruan festival Ayam Sap-Sap di Kabupaten Situbondo, sebuah permata pariwisata pesisir utara Jawa Timur yang kaya akan cerita, warna, dan tradisi otentik yang tak ternilai harganya.





